Masuk

Ingat Saya

Pemuda Sebagai Agen Perdamaian

Oleh: Lukman Hakim.

Keberadaan pemuda di negeri ini sangat signifikan. Tetapi secara peran dan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan belum terlihat maksimal. Mengapa demikian? Karena proses pendewasaan karakter serta mentalnya yang masih lemah. Lemahnya kharakter dan mental ini hemat saya, ditengarahi oleh beberapa faktor.

Pertama, lemahnya mental kemandirian. Maksudnya yaitu, coba kita lihat sekarang, di mana-mana budaya instan dan pragmatisme semakin kuat menggurita di benak anak bangsa kita. Hal ini terjadi karena semakin derasnya arus globalisasi yang cenderung mengarah ke budaya hedonism dan westernisasi. Pemuda kita mayoritas memaknai globalisasi hanya sekedar budaya instan dan serba mewah. Tentu hal semacam ini harus segera ditanggulangi, untuk memperkecil jumlah pemuda yang semakin lemah dan bermental instan. Padahal jelas, bila bangsa ingin maju, tentu pemudanya harus kuat, militan dan tanggung berdikari.

Kedua, pemahaman agama yang spasialistik. Pemuda senantiasa memiliki keinginan dan jiwa yang selalu berkobar membara. Tentu ini harus diarahkan dan difasilitasi biar tidak keluar dari koridor yang ada. pemahaman agama yang komprehensif menjadi sangat penting untuk dideseminasikan secara baik dan benar. Anak pemuda kita akan gampang menyerap nilai-nilai agam lewat internet, yang tentu itu semua masih belum tentu benar sumber dan referensinya. Maka dari itu, guru, kiyai dan tokoh masyarakat harus peka melihat persoalan kedua ini secara masif, dan ikut berfikir bagaimana caranya mereka ulang biar anak muda kita mampu belajar agama yang damai, bukan agama yang keras, tertutup dan merasa paling benar.

Ketiga, memudarnya nilai-nilai pancasila. Pancasila sebagai sumber nilai bagi rakyat Indonesia, khususnya pemuda semakin tergerus oleh budaya-budaya hedonisme dan instan yang semakin menggurita. Kontekstualisasi nilai-nilai pancasila bisa dipastikan hampir punah di sekolah dan lembaga pendidikan kita. Pemuda mulai meninggalkan nilai pancasila, mereka bergeser ke budaya barat, yang cenderung tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Keempat, tidak adanya patron yang baik. Pemuda pasti selalu mempunyai idola yang dia sukai. Mereka akan mudah mengikuti arus yang mainstream. Semisal, budaya artis, baik lokal maupun internasional, budaya pemain bola, budaya keberagamaan yang dia lihat di tv dll. Tentu ini harus kita sikapi dengan bijaksana secara terukur dan terarah. Dengan cara seperti apa? Menurut saya, aparatur negara harus hadir memberikan contoh yang baik. Aparatur negara hadir memndeseminasikan nilai pancasila secara komprehensif ke anak pemuda. Biar mereka perlahan-lahan mengetahui, bahwa kita sudah memiliki sumber nilai yang mapan, yakni pancasila.

Apabila keempat faktor tadi kita sebarkan secara luas ke pemuda, saya yakin pemuda akan menjadi kekuatan yang besar di negeri ini. Pemuda mampu sebagai agen perdamaian untuk merajut kekuatan bangsa. Semoga cita-cita ini mampu segera kita realisasikan bersama. #DamaiDalamSumpahPemuda.

Dengan